
Renungan Katolik untuk Hari Senin Biasa Khusus Adven
Renungan Katolik hari ini memiliki tema "Jiwaku memuliakan Tuhan", yang merupakan bagian dari bacaan liturgi untuk hari Senin biasa khusus Adven. Warna liturgi yang digunakan pada hari ini adalah ungu, sesuai dengan tema perayaan Adven yang menekankan persiapan dan harapan akan kedatangan Sang Juruselamat.
Bacaan pertama dalam renungan ini diambil dari kitab 1 Samuel pasal 1 ayat 24-28. Dalam bacaan tersebut, kita diberitahu tentang Hana yang bersyukur atas kelahiran Samuel. Setelah Samuel disapih oleh ibunya, ia dibawa ke rumah Tuhan di Silo bersama seekor lembu jantan berumur tiga tahun, satu efa tepung, dan sebuyung anggur. Saat itu, Samuel masih sangat kecil. Setelah menyembelih lembu, mereka mengantarkan kanak-kanak itu kepada Eli. Lalu Hana berkata kepada Eli, "Mohon bicara, Tuanku! Demi Tuanku hidup, akulah perempuan yang dahulu berdiri di sini, dekat Tuanku untuk berdoa kepada Tuhan. Untuk mendapat anak inilah aku berdoa, dan Tuhan telah memberikan kepadaku apa yang kuminta daripada-Nya. Maka aku pun menyerahkannya kepada Tuhan; seumur hidupnya terserahlah anak ini kepada Tuhan." Lalu sujudlah mereka semua menyembah Tuhan.
Mazmur Tanggapan yang dipilih adalah dari kitab 1 Samuel pasal 2 ayat 1, 4-5, 6-7, 8abcd. Mazmur ini mengingatkan kita bahwa Allah adalah penyelamat yang selalu hadir dalam kehidupan manusia. Refren dari mazmur ini adalah "Ref. Hatiku bersukaria karena Tuhan, penyelamatku." Dalam mazmur ini, kita juga diajak untuk merenungkan bahwa Tuhan dapat membuat orang yang lemah menjadi kuat, dan orang yang kaya menjadi miskin, serta menjadikan orang yang rendah menjadi tinggi.
Bait Pengantar Injil mengandung refren "Alleluya. O Tuhan, Raja segala bangsa dan batu penjuru Gereja, datanglah, dan selamatkanlah manusia yang Kaubentuk dari tanah."
Bacaan Injil hari ini diambil dari kitab Lukas pasal 1 ayat 46-56. Dalam injil ini, Maria memuliakan Allah dengan kata-kata "Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya." Maria menyampaikan doa Magnificat yang penuh makna, mengakui bahwa Allah adalah penyelamat yang memberikan rahmat-Nya kepada orang-orang yang takut akan Dia.
Renungan Harian Katolik: Jiwaku Memuliakan Tuhan
Saudari-saudaraku yang terkasih dalam Kristus,
Pada hari ini, tanggal 22 Desember, kita merayakan Mother’s Day atau Hari Ibu di Indonesia. Peringatan Hari Ibu ini didasarkan pada peristiwa sejarah, yakni penyelenggaraan Kongres Perempuan I pada 22-25 Desember 1928. Penetapan tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu diresmikan oleh Presiden Sukarno melalui Dekrit Presiden RI No. 316 Tahun 1953. Oleh karena itu, saya mengucapkan Selamat Merayakan Hari Ibu kepada para ibu.
Jadilah seorang ibu yang beribadah. Seorang ibu yang beribadah adalah seorang yang mampu mengungkapkan dan merayakan imannya dalam kehidupan sehari-hari. Iman yang dirayakan tidak harus dilakukan di gereja saat menghadiri Misa Kudus, tetapi juga bisa dilakukan di rumah dan di mana saja. Contoh nyata dari seorang ibu yang beribadah adalah Maria.
Dalam Injil hari ini, ketika Maria berada di rumah Elisabet, setelah Elisabet menyatakan bahwa Maria adalah seorang yang berbahagia karena percaya kepada Allah dan sabda-Nya yang akan terlaksana (Luk 1:45), Maria segera berdoa Magnificat. Kata Maria, "Jiwaku memuliakan Tuhan" (ay. 46). Perhatikan awal Kidung Pujian Maria ini. Ia berkata jujur. Ia memuliakan Tuhan dengan jiwanya, bukan hanya dengan bibirnya. Firman Tuhan mengingatkan kita bahwa bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku (Yes 29:13). Kita perlu belajar memuliakan Tuhan seperti Maria, yakni dengan segenap jiwa, bukan hanya dengan bibir saja.
Dalam Magnificat itu, Maria melanjutkan, “dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya” (ay. 47). Hati Maria diliputi kegembiraan karena dia mengakui Allah sebagai Juruselamatnya; dia mengakui Allah sebagai yang menyelamatkan. Alasan lain, karena Allah telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Maria sadar bahwa di hadapan Allah, ia tidak lebih dari seorang hamba; ia adalah suatu ciptaan yang tak berarti, seperti banyak ciptaan lain. Di dalam dunia, ia adalah seorang gadis muda yang tak berarti, berasal dari kampung kurang terkenal, Nazaret. Ia tidak punya kedudukan penting dan tidak ada orang yang memperhatikannya; ia tidak menjadi pusat perhatian banyak orang. Singkatnya, dari segi manusia, Maria tidak berarti. Akan tetapi, justru Allah telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya ini. Allah telah mengangkat Maria dari posisinya yang tak berarti, tak diperhatikan, dan Allah telah mengangkat martabatnya serta memperhatikannya. Ia menjadikannya sebagai Ibu Mesias. Kesadaran akan Allah yang begitu mengasihi dan memperhatikannya telah membuat Maria menjadi seorang ibu yang gembira.
Contemplasi
Menjadi orang yang bahagia adalah dambaan setiap ibu, bahkan setiap orang, apa pun statusnya dalam keluarga, entah suami atau anak. Mari kita belajar dari Maria, menjadi bahagia pertama-tama karena percaya akan Allah sebagai Pribadi yang menyelamatkan, mengasihi dan memperhatikan hidupnya. Justru karena sikap Maria inilah maka segala keturunan menyebutnya berbahagia (ay. 48).
Ia selalu menjadi ibu yang bahagia dan menginspirasi segala keturunan, hingga generasi kita, sekarang, untuk menjadi orang beriman yang bahagia. Orang yang gembira dan bahagia seperti Maria tak akan lupa untuk memuliakan Tuhan, sumber kegembiraan dan kebahagiaan.
Semoga tokoh Maria – seorang ibu berbahagia yang disajikan dalam Injil hari ini - menggerakkan jiwa kita untuk senantiasa memuliakan Tuhan.
Doa
Ya Bunda Maria, doakanlah kami kepada PuteraMu secara khusus ibu-ibu agar seperti engkau dengan gembira dan bersukacita mewartakan kemuliaan Allah. Semoga mereka menjadi seorang ibu yang beribadah, gembira dan bahagia. Bawalah doa-doa kami kepada Yesus PuteraMu, kini dan sepanjang masa..Amin.
Sahabatku yang terkasih, Selamat Hari Ibu. Selamat hari Senin, Pekan khusus Adventus. Salam doa dan berkatku untukmu dan keluarga di mana saja berada: Bapa dan Putera dan Roh Kudus...Amin.
0 Response to "Renungan Katolik: Hari Senin, 22 Desember 2025 - Jiwaku Memuji Tuhan"
Posting Komentar