Perbedaan Kinerja Saham Bank di Bursa Efek Indonesia
Selama tahun 2025, kinerja saham bank yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan pergerakan yang beragam. Terdapat perbedaan signifikan antara saham bank berkapitalisasi kecil dan bank besar. Beberapa saham bank lapis dua dan tiga mencatatkan lonjakan harga yang cukup tinggi sepanjang tahun ini, sementara saham bank besar masih mengalami penurunan.

Kinerja Saham Bank Berkapitalisasi Kecil dan Menengah
PT Bank Permata Tbk. (BNLI) menjadi saham perbankan dengan kinerja terbaik sepanjang 2025. Secara year to date (YtD), saham BNLI melonjak sebesar 444,97%, dengan harga penutupan pada level Rp5.150 per saham. Capaian ini menunjukkan pertumbuhan yang sangat pesat sejak awal Januari 2025 hingga akhir Desember 2025.
Selain BNLI, beberapa saham bank digital dan skala kecil lainnya juga menunjukkan kenaikan yang signifikan. PT Bank Neo Commerce Tbk. (BBYB) naik 120,18% YtD, sedangkan PT Allo Bank Indonesia Tbk. (BBHI) menguat 112,86% YtD. Selanjutnya, PT Bank Capital Indonesia Tbk. (BACA) bertambah 78,63%, dan PT Bank Oke Indonesia Tbk. (DNAR) meningkat 64,6% YtD.
Di kelompok bank menengah, PT Bank Ganesha Tbk. (BGTG) menguat 56,58% YtD, PT Super Bank Indonesia Tbk. (SUPA) naik 47,24%, serta PT Bank KB Indonesia Tbk. (BBKP) meningkat 42,59% sejak awal 2025.
Kinerja Saham Bank Besar
Di sisi lain, saham bank besar atau big banks masih tertahan. PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) tercatat turun 16,54% YtD, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) melemah 10,53%, dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) terkoreksi 10,29% sepanjang tahun. Adapun PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) relatif stagnan dengan kenaikan tipis 0,46% YtD.
Tekanan juga terlihat pada saham perbankan syariah dan bank digital besar. PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS) turun 18,32% YtD, sementara PT Bank Jago Tbk. (ARTO) melemah 18,72% YtD hingga akhir 2025.
Beberapa saham bank mencatatkan kinerja terburuk sepanjang tahun ini. PT Bank of India Indonesia Tbk. (BSWD) anjlok 68,4% YtD, diikuti oleh PT Bank Pan Indonesia Tbk. (PNBN) yang melemah 41,94%, serta PT Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk. (SDRA) yang turun 33,17% sejak awal tahun.
Secara keseluruhan, kinerja saham perbankan YtD menunjukkan adanya rotasi minat investor ke saham bank berkapitalisasi kecil dan menengah yang memiliki katalis korporasi maupun ruang pertumbuhan lebih besar.
Prospek Saham Bank
Menurut Analis Infovesta Kapital Advisori Ekky Topan, penurunan suku bunga sebesar 125 basis poin (bps) sepanjang 2025 bisa menjadi katalis positif bagi saham emiten bank. Terlebih, Bank Sentral membuka peluang pelonggaran lanjutan, meski dalam RDG Desember 2025 memutuskan menahan BI rate di 4,75%.
"Rotasi sektoral dari komoditas menuju finansial tetap memiliki peluang kuat untuk menopang IHSG, terutama setelah sektor komoditas mengalami reli panjang pada 2025," ujar Ekky.
Ekky menjelaskan bahwa suku bunga rendah bisa menurunkan cost of fund emiten perbankan dan dapat mendorong pemulihan net interest margin (NIM), yang selama 2025 tertekan. Selain itu, imbal hasil kredit akan lebih stabil, pertumbuhan kredit bisa kembali menguat, dan risiko kualitas aset lebih terkendali.
Saat ini, valuasi perbankan besar menurutnya berada pada zona diskon terhadap rerata historis, sementara potensi pemulihan earnings di 2026 masih cukup terbuka. Arus dana asing juga cenderung berpihak kembali pada sektor berkapitalisasi besar yang likuid dan stabil.
Faktor Risiko
Meski demikian, Ekky melihat beberapa faktor risiko tetap perlu dicermati. Pertama, ketidakpastian arah kebijakan The Fed. Jika The Fed lebih hawkish dari perkiraan, tekanan ke rupiah dan capital flow bisa kembali meningkat dan memperlambat rotasi sektor domestik.
Kedua, perlambatan pertumbuhan kredit dan kenaikan NPL di sektor-sektor tertentu khususnya UMKM dan korporasi leverage tinggi juga masih berpotensi menahan pemulihan margin bank.
Ketiga, risiko makro domestik seperti penurunan harga komoditas yang terlalu tajam dapat mempengaruhi kemampuan bayar debitur di sektor tambang dan energi.
Keempat, faktor geopolitik dan cuaca ekstrem seperti kasus banjir Sumatra bisa menciptakan volatilitas sesaat di sektor tertentu.
Research analyst Kiwoom Sekuritas Miftahul Khaer menilai sejumlah saham sektoral yang sensitif terhadap suku bunga acuan turut berpeluang diuntungkan di era suku bunga murah. "Kemarin BI terlihat masih memutuskan untuk menahan suku bunganya. Meski begitu, kalau dibandingkan dengan tren di awal tahun, serta potensi di tahun 2026 nanti, prospek saham-saham yang memiliki exposure ke suku bunga masih akan menarik," ujar Miftahul.
0 Response to "Nasib berbeda saham bank besar dan kecil sepanjang 2025"
Posting Komentar