Gula kini menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan modern. Mulai dari kopi pagi hingga permen di pesta ulang tahun, gula sering dikaitkan dengan rasa manis yang cepat memberi kepuasan. Namun keyakinan umum juga menganggap bahwa gula bukan hanya memberikan rasa manis — melainkan memberikan lonjakan energi mendadak, yang sering disebutsugar rush.
Istilah sugar rushtidak ditemukan dalam buku medis atau jurnal kedokteran sebagai diagnosis resmi. Ia lebih merupakan istilah yang umum digunakan dalam budaya untuk menggambarkan keadaan di mana seseorang, khususnya anak-anak, menjadi lebih bersemangat atau hiperaktif sesaat setelah mengonsumsi makanan atau minuman yang manis. Fenomena ini telah menjadi cerita yang kuat dalam banyak keluarga dan media sejak beberapa dekade terakhir.
Di sisi lain, komunitas ilmiah telah melakukan penelitian mengenai kaitan antara konsumsi gula dan tingkah laku manusia selama beberapa dekade. Pertanyaan utamanya bukan hanya tentang apakah terjadi lonjakan energi, tetapi apakah fenomena ini benar-benar berasal dari gula itu sendiri — atau lebih disebabkan oleh faktor sosial, harapan, serta proses fisiologis dalam tubuh kita.
Apa itu gula?
Secara umum, gula merujuk pada jenis karbohidrat yang memiliki rasa manis, seperti sukrosa (gula putih), fruktosa (gula alami dalam buah), dan glukosa (yang dihasilkan saat tubuh mencerna karbohidrat). Ketika gula dikonsumsi, tubuh segera mengubahnya menjadi glukosa yang masuk ke darah untuk menjadi sumber energi utama bagi sel-sel tubuh.
Namun, terkadang orang mengaitkan gula dengan peningkatan energi mendadak, karena glukosa mudah tersedia bagi tubuh untuk digunakan. Padahal, proses ini tidak sama denganworkflowmasalah psikologis atau neurologis yang menyebabkan seseorang menjadi "lebih aktif" secara signifikan.
Dalam konteks nutrisi, istilah sugar rushlebih merupakan istilah budaya yang muncul dari pengalaman sehari-hari, khususnya pada anak-anak yang tampak lebih "bersemangat" setelah mengonsumsi makanan manis, meskipun penelitian ilmiah belum secara pasti menemukan hubungan sebab-akibat antara gula dan perilaku hiperaktif.
Apakah gula membuat anak menjadi terlalu aktif?
Keyakinan bahwa gula menyebabkan anak menjadi hiperaktif sangat kuat, khususnya di lingkungan keluarga dan sekolah. Namun, metaanalisis penelitian yang dikumpulkan dalamJAMApada tahun 1995 ditemukan bahwa konsumsi gula tidak berdampak pada perilaku atau kemampuan kognitif anak-anak.
Analisis lain juga menunjukkan bahwa tidak ada bukti yang konsisten bahwa gula menyebabkan peningkatan perilaku hiperaktif pada anak secara umum. Harapan orang tua dan situasi sosial yang memicu, seperti pesta ulang tahun atau pertemuan keluarga, jauh lebih mungkin menjadi penyebab anak terlihat lebih aktif, bukan gula itu sendiri.
Penelitian lain juga menunjukkan bahwa meskipun orang tua sering melaporkan perilaku hiperaktif setelah mengonsumsi gula, tetapi ketika penelitian dilakukan secaradouble-blind(ketika tidak ada yang tahu apakah anak diberi gula atau plasebo), perbedaan perilaku yang signifikan tidak ditemukan, yang menunjukkan pengaruh harapan dan bias dalam pengamatan.
Jika sugar rush adalah mitos, lalu apa yang sebenarnya terjadi?
Meskipun sugar rushsebagai lonjakan energi yang tiba-tiba dan hiperaktif tidak dapat dibuktikan secara ilmiah, tubuh memang mengalami perubahan fisiologis setelah mengonsumsi gula. Ketika kadar gula darah meningkat, pankreas mengeluarkan insulin untuk membantu sel-sel tubuh menyerap glukosa tersebut.
Jika konsumsi gula berlebihan menyebabkan kenaikan cepat kadar glukosa dalam darah, maka respons insulin juga akan segera terjadi, yang terkadang membuat kadar gula darah turun lebih rendah dibandingkan awalnya. Kejadian ini sering dikenal sebagaisugar crash, keadaan seseorang merasa lelah, lesu, atau tidak tenang setelah efek gula sementara menghilang.
Jadi, alih-alih mengalami rushyang meningkatkan energi secara signifikan, tubuh seringkali mengalami penurunan energi sementara setelah kadar gula darah mencapai puncaknya, yang dapat membuat seseorang terlihat lelah atau mudah tersinggung, dan hal ini terkadang disalahpahami sebagai efek sebaliknya darisugar rush.
Perbedaan antara sugar rush dan sugar crash
Istilah sugar rush dan sugar crashsering dibahas secara bersamaan, namun keduanya memiliki perbedaan dalam mekanismenya.
Sugar rushmerupakan istilah budaya yang menggambarkan peningkatan energi yang tidak didukung oleh bukti ilmiah yang kuat sebagai dampak konsisten dari konsumsi gula. Di sisi lain,sugar crashdidukung oleh mekanisme fisiologis yang jelas: ketika kadar gula darah meningkat tajam dan kemudian menurun secara cepat karena respons insulin, seseorang bisa merasa lelah, lesu, atau sulit berkonsentrasi. Hal ini merupakan fenomena nyata yang dijelaskan melalui pemahaman tentang metabolisme tubuh.
Perbedaan pentingnya adalah bahwa rushberdasarkan persepsi subjektif yang sering tidak sesuai dengan bukti ilmiah, sedangkancrashmerupakan respons fisik tubuh terhadap perubahan kadar gula dalam darah.
Dalam diskusi ilmiah modern, sugar rushlebih sering dianggap sebagai mitos yang muncul dari harapan dan situasi sosial, bukan sebagai kejadian fisik yang konsisten. Bukti dari berbagai penelitian, termasuk analisis meta, menunjukkan bahwa gula tidak secara langsung menyebabkan hiperaktivitas pada anak-anak maupun orang dewasa.
Namun, penting juga untuk memahami bahwa konsumsi gula berlebihan tetap berdampak pada kesehatan, seperti risiko obesitas, diabetes, dansugar crashyang menyebabkan tubuh terasa lemah dan tidak stabil dalam hal energi. Perbedaan antara mitos dan kenyataan ini membantu kamu menentukan cara mengatur konsumsi gula dengan bijak dalam kehidupan sehari-hari untuk kesehatan jangka panjang.
Liburan dan Keinginan: Mengapa Tubuh Merasa Lapar akan Gula dan Lemak Duduk dekat jendela dapat membantu mengontrol kadar gula darah, lho! Minuman Soda Diet vs Tanpa Gula, Mana yang Lebih Baik untuk Kadar Gula Darah?Referensi
Fritz Schiltz dan Kristof De Witte, “Kebangkitan Gula atau Kegagalan Gula? Bukti Eksperimental Mengenai Dampak Minuman Manis di Kelas,”Health Economics31, nomor 1 (2 November 2021): 215–32,https://doi.org/10.1002/hec.4444.
Gula sebenarnya tidak membuat anak-anak menjadi hiper—ini alasannya mengapa banyak orang percaya demikian.National Geographic. Diakses Desember 2025.
"Busting the Sugar-Hyperactivity Myth." WebMD. Diakses Desember 2025.
"Sugars and hyperactivity research." Sugar Nutrition Research Center. Diakses Desember 2025.


0 Response to "Apa Itu Sugar Rush, Benarkah Gula Bikin Hiperaktif?"
Posting Komentar